Jumat, 13 Januari 2012

DANI LOPER


(1)
DANI LOPER: CINTA MONYET
(yusuf abdulwahid)


1
Dung dung dung ……. Dung dung …. Dung dung dung ……
Dani menghentikan motornya di ujung gang, serombongan anak-anak yang menyaksikan pertunjukan topeng monyet menghalangi jalannya. Dia tak mau membunyikan klaksonnya, tak mau mengganggu keasyikan anak-anak itu. “Dasar monyet-monyet kecil, pagi-pagi sudah berkeliaran” gumamnya sambil membelokkan motornya. Dia mencari jalan lain menuju rumah kontrakannya.
Saat masuk pagar rumahnya, dia tak melihat Mbok Anah yang sedang membungkuk menyapu halaman. Hampir saja ban depan motornya menubruk bokong Mbok Anah.
“Eh monyet! …. Monyet! ……” Mbok Anah terlatah-latah karena kaget. Dia mengusap-ngusap dadanya sambil terbelalak menatap Dani yang terkekeh-kekeh.
“Iya Mbok, Monyet Ganteng baru pulang nih. Udah bikin sarapan buat saya?” Ujar Dani sambil memarkir motornya.
“Udah Monyet… eh …. Nak Dan … Mbok udah bikinin pisang goreng sama kopi susu,” Mbok Anah masih berdiri dengan sisa kagetnya.
“Yaah … makanan monyet deh,” Dani tersenyum.
Di ambang pintu dia berhenti, karena dilihatnya seorang anak gadis sedang berbaring di sofa ruang tamunya. Ina, gadis remaja anak pemilik rumah yang dikontrak Dani, sedang asyik dengan Hapenya. Kakinya dijulurkan ke atas meja tamu.
Dani menghampiri dan menggeser kaki Ina dari atas meja.
“Kamu ngga sekolah Na?” Tanya Dani sambil melongok Hape yang dipegang Ina. Ina menarik tangannya, berusaha menghindarkan Hapenya dari Dani.
“Libur,” jawab Ina pendek sambil kembali memainkan Hapenya.
“Libur apa? Perasaan Sekolah kamu libur mulu” kata Dani sambil masuk ke kamarnya.
“Gurunya lagi ada rapat,” Jawaban Ina mengagetkan Dani yang baru saja mau merebahkan tubuhnya, hendak melepaskan lelah setelah sejak subuh berkeliling mengantar Koran pada pelanggannya. Ina ternyata mengikutinya.
“Hey, mau apa kamu? Ini kamar laki-laki bujangan, anak gadis tidak boleh masuk.”
Ina berbalik lesu dan keluar kamar. Dani merasa heran dan keluar kamar, menuju dapur. Tidak lama kemudian Dani kembali ke ruang tamu dengan membawa sepiring pisang goreng, menghampiri Ina yang kembali berbaring di Sofa.
“Mau pisang?” tawarnya pada Ina.
“Ada masalah ya?” Tanya Dani sambil mengunyah.
Ina tiba-tiba duduk menghadap ke arah Dani.
“Kak Dan, punya pacar nggak?” tatapannya kelihatan serius.
Dani mengulurkan tangannya memegang dahi Ina.
“Nggak panas. Kamu sakit apa sih?”
“Iiih Kak Dan, ditanya malah nanya. Jawab dong.”
Dani membanting punggungnya kembali ke kursi. Dia meneruskan mengunyah pisang goreng di mulutnya.
“Kak Dan!” Ina setengah berteriak.
“Iya non, sabar kenapa? Dulu pernah punya, waktu masih kuliah. Hmmm …” Dani menggerakkan jarinya.”Tiga orang. Kenapa emang?”
“Sekaligus?”
“Sekaligus apa?”
“Macarin cewek sekaligus tiga?”
“Nggak lah, putus satu, dapet lagi satu, kenapa emang non? Kamu udah punya pacar juga?”
“Sekarang?”
“Sekarang apa?”
“Sekarang Kak Dan punya pacar nggak?”
“Sekarang?” Dani menggaruk-garuk kepala.
“Iya, sekarang Kak Dan punya pacar nggak?”
“Hmmm.., lagi nggak jelas,” katanya agak malas. Dia bangkit.
“Kak Dan mau kemana?”
“Tidur,” jawabnya pendek sambil menuju arah kamar.
“Ntar dulu, Ina mau nanya lagi nih?” Ina menarik tangan Dani.
“Nanya apa?” Dani pura-pura menguap.
“Maksud Kak Dan ngga jelas tadi itu bagaimana?”
“Buat apa sih nanya-nanya begitu?” tanyanya dengan malas.
“Gini deh, Kak Dan dengerin cerita Ina dulu ya,” Ina menarik Dani untuk duduk di sampingnya.”Nanti Kak Dan kasih tanggepan.”
“Males ah,” Dani mau bangkit tapi ditarik lagi sama Ina.
“Ayo lah Kak Dan, bentaaaar aja,”Ina merengek.”Nanti Ina siapin makan siang deh, mau?”
“Gratis?” Dani mulai bersemangat.
“Gratis tis tis tis,” Ina mengangkat dua jarinya.
“Oke, mau cerita apa?”
“Gini Kak,” Ina membetulkan duduknya menghadap pada Dani.”Emmm … ada cowok, Ina suka sama dia, terus katanya dia juga sama Ina, tapi …. Gimana ya …… nggak jelas gitu deh.” Muka Ina memerah.
“So?” Dani berkerut keningnya.
“Iya … tapi …. Terus kalau kita ketemu, papasan jalan misalnya, dia tuh sama sekali ngga pernah negur Ina. Boro-boro negur ngeliat Ina aja ngga sama sekali. Ina kan jadi bingung.”
“So?”
“Iya, jadinya Ina fikir kata temen-temen Ina yang bilang dia suka sama Ina itu boongan, tapi mereka bilang katanya denger sendiri dia suka sama Ina.”
“So?”
“Iiih Kak Dan sa so sa so melulu, emangnya Ina tukang baso? Terus Ina harus gimana dong?”
“Idungmu tuh kayak baso,” Dani menunjuk hidung Ina.
“Gimana dong Kak Dan?” Ina menunjukkan muka cemberut manja.
“Ya sudah kalau begitu mah, ngga ada masalah,” Dani bangkit.
“Iiih Kak Dan, ngga ada masalah bagaimana?” Ina menarik tangan Dani.
“Iya, di antara kalian berdua itu ngga ada masalah, tinggal lanjut aja.”
“Lho, bagaimana Ina membuktikan kalau dia suka sama Ina? Kan tadi Ina dah bilang, boro-boro negur, ngeliat Ina aja pas ketemu, nggak. Apalagi nembak. Ina kan jadi bingung.”
“Jangan sampai lah,” Dani merebahkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata.
“Jangan sampai apa?”
“Jangan sampai dia nembak kamu, ntar kamu mati, orangtua kamu sedih.”
“Yaaa Kak Dan, bukan nembak seperti itu, nembak itu menyatakan cinta, masa Kak Dan ngga tau sih?”
“Memangnya kalau orang pacaran harus ada tembak-tembakan dulu? Kayak perang aja,” Dani meluruskan kakinya di atas meja, dan mencoba memejamkan mata. Tapi kemudian terhenyak karena Ina mencubitnya.
“Kak Dan! Ina serius nih…..”
“Kalau emang serius, bikinin kopi dulu.”
Ina kemudian buru-buru ke belakang membuat kopi, sementara Dani memejamkan mata lagi di atas sofa.
“Ni kopinya, terus gimana Kak Dan?” Ina duduk di samping Dani.
“Sudah pasti kalian saling suka, cuma karena  sifat monyetnya belum hilang jadi begitulah keadaannya,” Dani menyeruput kopinya.
“Maksudnya?”
“Sini hapenya,” Dani mengambil hape dari tangan Ina.
“Eeh jangan Kak!”
“Diem dulu, mau dibantuin nggak?”
“Iya, tapi mau ngapain sama hape Ina?”
“Mana nomor si monyet cowoknya?” Dani memutar-mutar tombol hape.
“Namanya Aria Kak Dan, kok disebut monyet sih?”
“Aria …. A..ri..a,” Dani mencari-cari.”Kok ngga ada?”
“Ina ngga nulis namanya bukan itu, tapi ….”
“Monyet ya? Mo ….nyet …. Ngga ada juga.”
“Iih Kak Dan, norak. Sini Ina cariin, emang Kak Dan mau ngapain? Nih.”
“Kok namanya pake angka? Nomor NISnya ya …… empat dua satu empat?”
“Norak nih si Kak Dan…”
Dani mengetikkan sesuatu di hape Ina. Ina mengintip tapi Dani menyembunyikan layarnya.
Beberapa saat kemudian Dani mengembalikan hape itu pada Ina. Ina memeriksanya.
“Kak Dan SMS ya sama Aria? SMS apa Kak? Kok dihapus dari kotak sentnya?”
“Sekarang kamu pulang, mandi, dandan yang cantik.”
“Buat apa?”
“Ngga usah tanya, cepet. Ntar kalau dia datang kamu belum siap dia kecewa lagi.”
“Hah, Kak Dan nyuruh Aria ke sini? Ya ampun Kak Dan, gilaaaa….. Duuh Ina harus gimana nih. Aaah Kak Dan sih, gimana dong?” Ina terlihat panik.
“Mulai deh, sifat monyetnya keluar,” Dani bangkit menuju kamarnya, dan merebahkan badannya di kasur. Tidak lama kemudian terdengar suara dengkurnya.
2
Suara adzan dzuhur dari speaker cempreng mushola samping kontrakan membangunkan Dani dari tidur paginya. Dia langsung menuju dapur. Di atas meja ada piring yang ditutup piring juga, di atasnya terdapat secarik kertas. Dani mengambilnya dan membaca tulisan di dalamnya.
“Kak Dan, makasih ya. Ini ketoprak kesukaan Kak Dan buat makan siang. Maaf, motor Kak Dan Ina pinjam. Habis motor di rumah lagi dipake Abah, Aria juga ngga bawa motor, jadi kita minjem motor Kak Dan. Kita mau jalan ke kebon binatang, mau lihat monyet. Jangan khawatir pulang nanti bensin tetap full. Ttd Ina©Aria.”
“Dasar monyet,” gerutu Dani sambil membuka piring penutup dan kemudian makan.
**
Dani mengangkat jari-jarinya dari keypad laptopnya ketika Ina masuk, di belakangnya ada seorang anak remaja laki-laki yang rambutnya setengah cepak berjambul ikal. Dani melihat ke arah jam dinding, pukul empat sore.
“Kak Dan, makasih motornya ya,” Ina cengengesan.”Oh ya, kenalin, ini Aria, hmmmm… cowok Ina.”
“Oh ini toh monyet cowoknya,” Dani menyambut tangan anak itu.
“Saya orang Om, bukan monyet,” Aria protes.
“Alah, beda dikit aja marah,” Dani kembali menghadapi laptopnya. Tapi kemudian berhenti karena merasa Ina dan Aria masih ada di depannya.
“Ada apa lagi?” Dani menatap mereka. ”Mau pinjem motor lagi? Atau mau minta maaf ngga bisa ngisiin bensin, karena kehabisan uang?”
“Bensin full,” kata Ina sambil menyodorkan sebungkus rokok. ”Dan ini bonusnya.”
“Terus? Kenapa masih di sini?”
Ina berdiri, lalu setengah berlari ke arah pintu. Di ambang pintu dia menggapai-gapai seperti memanggil seseorang.
“Sini …… sini…,” Ina memanggil.
Muncul seorang remaja perempuan yang malu-malu di ambang pintu.
“Hmm …. Sepertinya monyet sakit lagi nih,” gumam Dani. Ditutupnya laptopnya. Di ambilnya sebatang rokok dan diisapnya.
“Kak Dan, kenalin ini temen Ina, namanya Taufani. Dia mau minta tolong sama Kak Dan.”
Ina mencolek-colek gadis itu.
“Ayo, ngomong aja sama Kak Dan,” Katanya setengah berbisik.
“Malu, kamu aja yang ngomong,” jawab gadis itu.
Dani memperhatikan gadis itu.
“Kamu punya kakak perempuan yang umurnya beda setaun atau dua tahun ya?” Dani tiba-tiba bertanya pada gadis itu.
“Ii…ya. Kok kakak tau sih?” Gadis itu terheran.
“Kamu punya sahabat deket yang juga suka sama cowok yang sama, tapi cowok itu lebih suka sama kamu, dan kamu bingung antara menerima cowok itu atau menghargai sahabat kamu. Begitu ceritanya?”
“Ii …ya,” Ina dan gadis itu menjawab serempak.
“Kok Kak Dan tau?” kini Ina yang terheran-heran. “Ina kan belum cerita apa-apa.”
“Om dukun ya?” Aria nimbrung.
“Emang gua punya tampang dukun?” Dani melotot pada Aria. “Sembarangan aja lu ngomong, dasar monyet.”
“Om juga sembarangan manggil saya monyet,” timpas Aria.
“Tapi darimana Kak Dan tau?” Ina penasaran.
“Yang menjadi masalah yang sulit buat kamu adalah bahwa sahabat kamu itu yang lebih dulu suka sama tu cowok, dan awalnya sahabat kamu minta tolong kamu untuk deketin dia sama tu cowok, gitu kan?”
“Iii …. Ya.. Kok Kakak tau ya?” gadis yang bernama Taufani itu semakin heran.
“Kelakuan monyet-monyet kecil emang mudah ditebak,” jawab Dani sambil ngasih uang sama Aria. “Tuanku yang ganteng, tolong belikan saya rokok.”
“Lho, kita kan udah beliin buat Kak Dan, tuh,” kata Ina menunjuk bungkus rokok yang tadi di kasih Ina.
“Maaf non, saya bukan asbak yang sembarang menampung macam-macam rokok. Saya tidak merokok itu, tapi yang ini.” Dani menunjukkan bungkus rokok yang sudah kosong dari merek yang berbeda.
Aria bangkit dan menerima uang dari Dani, lalu keluar.
“Terus gimana saran Kak Dan buat Fani,” Ina melirik ke arah Taufani.
“Sejak kapan kalian sahabatan?”
“Siapa? Ina sama Fani? Yaa … se ….” Ina baru mau menjawab tapi dipotong oleh Dani: “Maksudnya Fani sama sahabat yang jadi masalah itu.”
“Ooh, udah lama sih, sejak SD,” Fani menjawab.
“Kamu pasti tau apa yang bisa bikin dia senang dan sedih, kan?”
 “Iii..ya.”
“Kamu tau sampai kapan kamu akan pacaran dengan cowok itu?”
“Belum tau lah, belum aku jawab juga kok. Dia baru nembak semalem, makanya aku bingung, terima apa nggak.”
“Kamu bingung karena kamu ingin nerima dia, dan sahabatmu mengerti dengan bahagia, sehingga kamu dapat dua-duanya, begitu kan?”
“Iya bener….”
“Monyet serakah selalu bingung mau makan apa, pisang apa jambu? Akhirnya sakit perut karena makan dua-duanya sekaligus.”
“Yang ini kan Om?” Aria tiba-tiba muncul di pintu.
“Ya, thanks. Eh, saya mau nanya sama kamu. Bener kamu suka sama anak bau ingus ini?” Dani menunjuk Ina.
“Yee Kak Dan, Ina udah nggak ingusan,” Ina Protes.
“Iya Om,” jawab Aria.
“Temen kamu ada juga ngga yang suka sama dia?”
“Katanya ada juga sih, tapi egepe lah, yang penting hari ini sudah ….. milik saya,” Aria melirik pada Ina.
“Duuhhh…. Co cweeet…..” Ina mencet hidung Aria yang mukanya tiba-tiba memerah.
“Nah, itu maksud saya,” Dani memandang Taufani.”Kamu pasti ngga akan peduli lagi sama perasaan sobat kamu itu, kalau kamu sudah dapatkan cowok itu, dan saya juga yakin tu cowok ngga peduli.”
“Ya, harusnya temen saya itu juga ngertiin perasaan saya juga dong Kak,” Taufani masih mencoba mencari pembenaran.
“Oke, sekarang kalau keadaannya terbalik, kamu di posisi temen kamu dan sebaliknya, kira-kira apa yang kamu rasa?”
“Yaaa …pastinya sakit sih.”
“Seandainya pun kamu menerima dan coba mengerti, tetep saja sakit kan?”
Taufani mengangguk pelan, airmatanya mulai membasahi matanya.
“Aria, kamu tahu masalah Fani,” tanya Dani pada Aria.
“Tau Om, tadi Ina cerita di BonBin.”
“Tau siapa cowoknya?”
“Tau, temen saya juga.”
“Kamu tau ngga, cowok lain yang suka sama Fani selain tu cowok?”
“Iya, mantannya dia juga,” Aria memandang Fani, seperti mencoba meminta maaf dengan matanya.
”Katanya sih dia minta balikan sama Fani, tapi tau, Faninya mau apa ngga.”
“Ya sudah, cuma itu yang bisa saya bantu. Selanjutnya terserah anda, saya mau mandi, saya harus segera nganter koran sore.”
Ketiga remaja itu meninggalkan Dani.
3
Dani baru saja membereskan koran-koran yang segera akan diantar kepada pelanggannya, ketika seorang remaja laki-laki, bernama Wahyu, menghampirinya.
“Kak Dan, bisa tolong aku nggak?” katanya agak lesu.
“Kenapa? Kamu sakit?” Tanya Dani.
“Nggak tau Kak, perasaan saya ngga enak banget, saya nggak pede bawa sepeda, boleh numpang motor Kak Dan nggak buat nganter Koran ke langganan saya?”
“Ya udah, ayo kita bareng aja,” Dani menyerahkan tumpukan Koran bagiannya ke Wahyu, lalu naik ke atas motornya. Wahyu membonceng di belakangnya memangku tumpukan Koran baru. Mereka berkeliling mengantarkan Koran kepada para langganan mereka berdua. Karena menempuh dua rute pengantaran, Dani baru tiba di rumahnya sekitar jam setengah tujuh malam, lebih lama satu jam dari biasanya. Wahyu ikut bersamanya.
“Ada masalah apa sih, kalau boleh tau?” kata Dani seusai sholat magrib, dia menyantap kue ubi yang telah disiapkan Mbok Anah. Wahyu pun mengikutinya mengambil sebuah.
“Wini,” Wahyu mengunyah ubinya sambil merebahkan kepalanya di punggung kursi.
“Wini itu binatang apa?” Dani menatap Wahyu.
“Wini itu orang Kak, pacar saya,” Wahyu balas menatap Dani.
“Hahahaha……,” Dani tertawa lepas, sampai hampir tersedak kue ubinya. Dia setengah berlari ke arah dapur, mengambil minum.
“Anak gadis mana yang kau tipu supaya jadi pacarmu?” Dani muncul dari dapur membawa minuman buat Wahyu.
“Yah Kak, saya kan nggak jelek-jelek amat,” Wahyu protes.
“Aku ngga bilang kamu jelek kan?”
“Tapi kata-kata Kak Dan tadi seperti mengatakan bahwa saya tidak pantas punya pacar.”
“Memang,” Dani seperti tak peduli dengan ketidaksetujuan Wahyu.
“Kenapa saya tidak pantas?” tanya Wahyu.
“Kamu cuma tukang antar Koran yang tidak selesai SMP, umur juga belum cukup tujuh belas.”
“Memangnya tukang antar Koran yang tidak selesai SMP dan umurnya belum tujuh belas tidak boleh punya pacar?” Wahyu nampak tersinggung.
“Tidak.”
“Aturan siapa?”
“Aku,” jawab Dani santai.
“Yah, emangnya Kakak siapa?”
“Orang bilang aku Dani Loper,” jawab Dani sambil menatap Wahyu serius, sehingga Wahyu merasa gugup.
“Kenapa ngga boleh Kak?” suara Wahyu menurun.
“Supaya kamu tidak jadi pembohong dan pemalas.”
“Memangnya aku seorang pembohong dan pemalas? Kapan aku bohong sama Kak Dan? Dan rasanya aku bukan pemalas,” nada suara Wahyu kembali meninggi.
“Kamu sudah membohongi anak perempuan itu dengan mengaku masih sekolah, dan tidak bekerja sebagai loper koran, kamu sudah mulai malas mengantar koran hanya karena hatimu galau memikirkan gadis itu,” Dani menatap Wahyun dengan tajam, sehingga Wahyu tidak berani membalas tatapan itu lama-lama, dia hanya bisa menunduk.
“Kalau aku harus terus terang, aku takut dia memutuskan aku, aku sangat sayang sama dia.” Wahyu sedikit memelas.
“Jujur memang pahit, tapi harus, karena cepat atau lambat gadis itu akan tahu siapa kamu sebenarnya,” Dani menepuk pundak Wahyu. “Lagi pula kalau dia memutuskan kamu setelah tahu siapa kamu sebenarnya, dia bukan gadis yang tepat buatmu.”
Wahyu masih diam menunduk, saat Dani meninggalkannya sendiri. Dani ke kamarnya dan tidur.
“Kalau mau pulang, kunci pintu, lempar kuncinya lewat celah di atas pintu ke dalam, kalau mau nginep tidur aja di sofa,” katanya.
4
Siang itu Dani meluncur di atas motornya. Dia baru dari toko buku, membeli beberapa buah buku.
Ketika melewati jalan raya yang mengarah ke arah kantor walikota, matanya tertuju ke baligo besar dengan gambar yang mencolok, iklan penyedia layanan telekomunikasi yang menggunakan seekor monyet sebagai modelnya.
“Sepertinya dunia sudah dikuasai para monyet,” gumamnya. Ketika matanya kembali ke depan, sungguh kaget dia.
“Ciiit! …….. Cit!..........Shraaakkk……!” Dani mengerem motornya sekuat tenaga. Hampir saja motornya menabrak sedan yang tiba-tiba berhenti di depannya.
“Monyet!” Dani setengah berteriak. Ban depan motornya hanya tinggal beberapa senti lagi dari bemper belakang sedan itu. Tapi, buku-buku yang dijepit di bawah stang berjatuhan di jalan, Dani pasang standar motor dan memungutnya. Saat itu pengemudi sedan keluar dan menghampiri.
“Mobil anda tidak apa-apa, tidak tersentuh sama sekali,” kata Dani tanpa melihat orangnya. Dia sudah berfikir orang itu akan marah-marah. Begitu biasanya perlakuan pemilik kendaraan lebih bagus dan mahal terhadap pemilik kendaraan jelek.
“Saya tidak memikirkan keadaan mobil saya, tapi saya ingin tahu apa anda tidak apa-apa?” terdengar suara lembut wanita.
Dani menoleh. Terperangah. Ternyata seorang wanita. Berpakaian rapi dan cantik. Baru saja Dani bangkit, terdengar suara bel klakson bersahut-sahutan.
“Nyonya silahkan jalan, nanti orang-orang itu marah karena perjalanannya terganggu, saya tidak apa-apa,” Dani pun kemudian naik motornya kembali. Sedan wanita itu melaju dengan kecepatan tanggung, Dani masih di belakangnya, sementara beberapa sepeda motor lain menggerung menyusul. Dani pun menyusul sedan itu, saat itu dia menoleh ke arah pengemudinya, dan wanita itupun menoleh, mereka bertatapan sejenak.
“Perasaan gue kenal..?” fikir Dani. ”Ah, nggak mungkin,” fikirnya kemudian. Dia kemudian menikmati perjalanannya lagi.
Setelah memarkir motor di depan kontrakannya, Dani tidak segera masuk, tapi duduk di kursi teras, dan memeriksa buku-buku yang baru dia beli, beberapa di antaranya agak lecet.
“Selamat siang,” sebuah suara mengejutkannya. Dani mendongak. Wanita pengemudi sedan tadi!
“Siang, eh… kenapa nyonya? Apa ada yang tidak beres dengan mobil nyonya? Sungguh motor saya tadi tidak sempat menyentuh mobil nyonya,” Dani langsung mengajukan pembelaan diri.
“Saya ke sini bukan mau membicarakan tentang mobil saya,” sahut wanita itu. “Saya hanya mau bertanya apakah anda Hamdani Tawakal alias Dani?”
“Betul, darimana nyonya tau?”
“Waah, betul dugaanku,” wanita itu tertawa. “Aku Dewi, Dewi Rahyanti. Masih ingat tidak? SMP 1 Bogor”. Wanita itu mengulurkan tangannya.
Dani terperangah. “Jadi, kamu Dewi? Pantas tadi aku merasa kenal. Pangling sekali,” Dani menyambut tangan Dewi dan mempersilahkan duduk.” Bagaimana kamu bisa ke sini?”
“Aku mengikutimu tadi,” jawab Dewi sambil duduk.
“Wah aku jadi malu, inilah tempat tinggalku, masih ngontrak,” kata Dani tersipu, karena wanita itu terus memperhatikannya.
“Mana istrimu?” Dewi bertanya sambil matanya melongok ke arah pintu rumah petak itu.
“Eh, aku belum punya istri. Belum laku,” Dani semakin tersipu.”Kamu tinggal di mana? Sudah punya anak berapa?” Dani balik bertanya.
Dan mereka pun terlibat pembicaraan, diselingi tertawa. Tak lama kemudian, Dewi berpamitan setelah memberikan kartu nama.
 Dani mengantar kepergian wanita itu dengan tatapannya. Tatapan yang tidak dewasa. Dan itu tidak lepas dari perhatian Ina yang sejak tadi mengintip dari balik jendela rumahnya. Kemudian Ina menghampiri Dani.
“Hmm…… bau monyet nih,” Ina menyindir sambil duduk.
“Apa katamu?” Dani menatap Ina.
“Ibu itu pasti pacar monyet kak Dani waktu masih di SMP kan?”
“Tau dari mana kamu?” Dani terperangah.
Ina tidak menjawab, hanya membuat corong dengan tangannya di kupingnya.
“Kurang ajar, kamu nguping dan mengintip ya,” Dani bersikap mau menerkam Ina yang kemudian lari sambil tertawa.
Dari depan rumahnya, Ina menirukan gerakan monyet, tapi dia tidak sadar, kakinya menginjak undakan terasnya sehingga terjerembab di samping mbok Anah yang sedang menyapu.
“Eh…..monyet….monyet..”
Dani tertawa.

Seri berikutnya (2) Dani Loper: Cinta Segitiga dan (3) Dani Loper: Cinta Buta